GAJAH MADA bab I – 7

GAJAH MADA

Renny Masmadaoleh Renny Masmada

BAB I-7

Sementara itu, berbeda dengan Tegal Arum, pusat pasar Kotaraja Majapahit yang berada di sisi jalan raya yang membelah kotaraja Majapahit tampak sangat ramai.  Bukan saja oleh para penduduk kotaraja, para pedagang dari daerah-daerah lain ikut menjajakan dagangan mereka.

Sesekali dua atau tiga orang prajurit berkuda melintas di jalan yang membelah kotaraja.

Majapahit menjadi pusat perdagangan di timur Jawa setelah Singasari runtuh. Perdagangan bertambah ramai apabila ada kapal besar merapat di bandar kecil sungai Brantas seperti di Canggu dan delta sungai Brantas.

Untuk menjual dagangan mereka, para pedagang dari Cina dan India bahkan ada yang menetap untuk waktu lama di tlatah Majapahit. Mereka membawa barang-barang dagangan dari negeri mereka atau negeri lain yang sempat mereka kunjungi untuk dijual di Majapahit.

Mereka kembali ke negara mereka dengan membawa barang-barang yang dibelinya di Majapahit. Kadang-kadang mereka menyempatkan diri singgah di Suwarnabhumi, untuk membeli barang-barang yang dapat dijual di negaranya.

Saat itu, Suwarnabhumi menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai di selat Malaka. Para pedagang dari beberapa negara saling menjual barang dagangan mereka di sana.

Beberapa pedagang Majapahit sengaja berlayar ke Suwarnabhumi membeli dagangan dengan harga lebih murah dan jenis yang sangat beragam seperti bahan tenunan, pewarna atau jenis perak khusus dari Suwarnadwipa untuk dijual di pasar kotaraja.

Para bangsawan Majapahit sangat menyukai barang-barang yang diperdagangkan mereka. Dengan keuntungan yang berlipat, para pedagang itu berangkat ke Suwarnabhumi dengan membawa barang dagangan dari tanah Jawa, pulangnya mereka membawa barang dagangan dari negeri sebrang. Begitu seterusnya.

Para pedagang dari desa terpencil dengan mengendarai pedati membawa hasil bumi desa mereka untuk dijual atau ditukar dengan barang lain yang dibutuhkan di desa mereka.

Para penduduk Kotaraja sudah terbiasa bergaul dengan berbagai masyarakat dan kebudayaan. Bahkan beberapa penduduk sudah banyak yang belajar berbagai bahasa yang digunakan oleh orang asing.

Pagi itu, diantara keramaian penduduk di pusat pasar kotaraja, berjalan tiga orang laki-laki berpakaian putih layaknya seorang pendeta bersama seorang wanita muda yang juga mengenakan pakaian yang sama.

Ketiga orang laki-laki dengan rambut tergerai itu berpakaian sama, mengenakan kenitri yang melingkar di leher mereka, mengenakan gelang di kaki kanan dan sekuntum bunga yang terselip di telinga kanan mereka.

Mereka ialah saudara-saudara seperguruan Gajah Mada dari perguruan Eka Paksi. Yang lebih tua, berwajah lembut dan tampak sangat arif berusia sekitar lima puluhan ialah murid pertama perguruan Eka Paksi bernama Kebo Narawita.

Diusianya itu, Kebo Narawita telah mendalami ilmu kanuragan dan kajiwan yang tiada taranya  di zaman itu, sulit dicari bandingannya.

Sejak usia remaja dia sudah bersama dengan gurunya, Raden Naga Baruna, yang juga guru Gajah Mada. Kebo Narawita ialah putra seorang bangsawan dari Singasari bernama Rakrian Bayanata Arya Kepanggih, yang juga sahabat gurunya semasa gurunya masih mengabdi di Singasari sebagai senapati kepercayaan Sri Kertanegara.

Pada saat Singasari mengalami pemberontakan besar-besaran oleh Prabu Jayakatwang, keadaan istana sangat kacau. Saat itulah Kebo Narawita yang pada saat itu bernama Raden Mahesa Tenggara dititipkan oleh ayahnya pada Raden Naga Baruna.

Murid nomer dua, tampak lebih muda sekitar lima tahunan dari Kebo Narawita, bernama Kebo Narameta, juga sangat sakti. Ia adik kandung Kebo Narawita.  Bersama-sama dengan kakaknya, ia yang pada masa di lingkungan istana Singasari bernama Raden Kuda Rambiyat, juga hidup sejak kecil bersama gurunya.

Seperti kakaknya, Kebo Narameta yang juga kakak seperguruan Gajah Mada itu, juga berperawakan sangat bersahaja dan tampak sangat arif. Seorang laki-laki lain yang tampak masih sangat muda berusia sekitar dua puluh lima tahunan ialah adik seperguruan mereka, juga adik seperguruan Gajah Mada bernama Lembu Abang.

Berbeda dengan kakak-kakak seperguruannya, Lembu Abang walau juga bersikap santun, tampak lebih periang. Ia sudah diambil murid dan menjadi anak angkat gurunya sejak masih kanak-kanak.

Yang seorang lagi, wanita muda yang cukup manis, bernama Ken Wirati. Dialah perempuan satu-satunya murid terakhir dari perguruan Eka Paksi. Diambil anak oleh Raden Naga Baruna sejak masih bayi. Seperti juga Lembu Abang, Ken Wirati sejak kecil tidak pernah tahu siapa orang tua mereka. Dengan kasih sayang seorang Bapak, Raden Naga Baruna mendidik mereka semua mendalami ilmu kanuragan, ilmu pemerintahan, kesusasteraan, ilmu kajiwan dan lainnya.

Setelah istri Raden Naga Baruna meninggal dunia pada usia pendek perkawinan mereka, setelah Singasari runtuh, Raden Naga Baruna memutuskan untuk tinggal terpencil di dekat air terjun yang sangat jernih. Di atas bukit karang, di lembah yang menjorok di bawahnya, Raden Naga Baruna sebagai pewaris perguruan Eka Paksi mendidik kelima murid-muridnya itu menjadi manusia berwawasan luas dan memiliki ilmu seluas samodra.

Sama dengan Lembu Abang dan Ken Wirati, Gajah Mada kecil yang pada saat itu bernama Pipil, juga dibawa oleh Naga Baruna ke kediamannya. Dengan kelembutan dan kasih sayang seorang Bapak, Naga Baruna berhasil menciptakan keluarga kecil yang harmonis bagi kelima murid-muridnya, termasuk Gajah Mada yang tidak diketahui siapa kedua orang tuanya itu.

Setelah dianggap cukup, Naga Baruna membawa Gajah Mada muda ke Majapahit untuk mengabdi pada duli baginda raja yang saat itu diperintah oleh Sri Jayanagara.

Kesatuan Bhayangkara menjadi pijakan pertama Gajah Mada muda saat itu. Dengan berbekal ilmu pengetahuan yang didapat dari gurunya yang sangat dikasihinya itu, Gajah Mada bekerja tanpa mengenal lelah.

Peristiwa Badander, ketika dia yang kebetulan mendapat tugas piket sebagai kepala jaga saat itu, melambungkan namanya. Kesetiaannya pada raja yang saat itu diungsikan ke Badander menjadi peluang yang sangat berharga bagi masa depannya. Dengan cepat, setelah peristiwa Badander, Gajah Mada muda  beberapa kali mendapat kenaikan jabatan yang bagi orang biasa tidak mungkin terjadi.

Setelah mempersunting istrinya, Ken Bebed, anak seorang patih, Gajah Mada kemudian ditugaskan sebagai kepala pengawal raja yang sangat terpercaya.

Setelah kematian Sri Jayanagara karena bedah gagal yang dilakukan oleh Mpu Tancya,  Gajah Mada pada pemerintahan Sri Tribhuanatunggadewi mendapat jabatan yang sangat luar biasa tinggi, sebagai Patih di Daha. Tidak sedikit para menteri, patih dan pejabat-pejabat tinggi lain di Majapahit yang iri dan sakit hati melihat kemajuan Gajah Mada itu.

Bagi mereka Gajah Mada tidak pantas mendapatkan jabatan-jabatan itu mengingat asal Gajah Mada sebagai penduduk biasa, bukan dari keluarga bangsawan. Tapi secara terang-terangan mereka tidak  berani menentang Gajah Mada mengingat kedekatan Gajah Mada dengan para kerabat raja. Salah seorang yang sangat dekat dengan Gajah Mada ialah Adityawarman, kakak sepupu Sri Ratu. Adityawarman berilmu sangat tinggi, memiliki wawasan yang sangat luas.

Semua pejabat tinggi istana saat itu sangat segan kepada Adityawarman yang juga saudara sepupu Sri Jayanagara dan sekaligus saudara seperguruannya dari perguruan Cakrabahu.  Sebagai duta Majapahit ke Cina pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, Adityawarman menjadi semakin terhormat di kalangan bangsawan istana.

Bukan itu saja. Hampir semua pejabat tinggi istana tahu bahwa Sri Ratu sangat menghormati Adityawarman. Kemampuan Adityawarman dibidang sosial, politik dan ketatanegaraan sangat mempengaruhi kinerja Sri Ratu di Majapahit. Banyak kebijakan dalam dan luar negeri Majapahit karena saran-saran dan kebijakan Adityawarman yang kemudian dilaksanakan oleh Sri Ratu. Semua orang tahu itu.

Begitulah, semakin hari bukan saja Majapahit yang berkembang pesat, juga Gajah Mada, seorang anak desa biasa. Yang seluruh masa kecilnya di bawah asuhan dan kasih sayang seorang sakti mandraguna yang sulit dicari bandingannya saat itu, mantan senapati kepercayaan Sri Kertanegara di Singasari, Raden Naga Baruna, yang kata orang mampu berjalan di atas air dan terbang seperti burung.

Sebagai seorang sepuh yang memiliki pengalaman dan ilmu sangat sakti, Raden Naga Baruna melihat dengan mata batinnya perkembangan Majapahit yang begitu cepat juga akan mengundang pertentangan yang sangat tajam dan keras.

Sejak Majapahit berdiri dan diperintah oleh Raden Wijaya yang bergelar Sri Kertarajasa, Majapahit terus diguncang oleh pemberontakan yang tak pernah berhenti. Sebagai seorang waskita, Naga Baruna melihat kedudukan Gajah Mada yang terus naik begitu cepat itu pasti juga mendapat tantangan yang tidak sedikit.

Untuk itulah kemudian Naga Baruna mengutus murid-muridnya menemui Gajah Mada, setidaknya kehadiran mereka memberikan banyak arti bagi Gajah Mada untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan dan sekaligus memberikan dorongan moral.

Pagi itu, mereka berempat tiba di Kotaraja Majapahit. Karena mereka berpakaian seperti layaknya pendeta, beberapa orang yang berpapasan memberikan hormat kepada mereka. Dengan ramah mereka membalas penghormatan itu.

“Kakang Narawita, aku tidak yakin Adi Gajah Mada ada di Majapahit,” kata Kebo Narameta kepada kakaknya.

Kebo Narawita menatap adik kandungnya itu, katanya: “Aku akan mencari tahu ke Kepatihan.”

“Kenapa kita tidak langsung saja ke Daha Kakang?” sahut Lembu Abang tidak mengerti.

“Bapak Guru meminta kita ke Majapahit. Aku rasa ada sesuatu yang perlu kita sikapi di sini.”

Narameta mengerinyitkan alisnya: “Jika Adi Mada tidak ada di sini bagaimana?”

“Kalian tetap berada di sini.”

“Bermalam di sini maksud Kakang Narawita?” tanya Ken Wirati tak mengerti.

Narawita mengangguk: “Ya. Kalian dapat bermalam di rumah Adi Nirapada. Sementara itu aku akan langsung ke Daha menemui Adi Mada.”

Ken Wirati tersenyum, katanya: “Ya Kakang. Usul yang baik. Rasanya aku sudah ingin mandi dan meluruskan kakiku.”

“Dan cari makan dulu tentunya,” ujar Lembu Abang dengan cepat.

Mendengar itu Ken Wirati tersenyum sambil mengerling ke kakak seperguruannya itu: “Aku sudah mengira, Kakang Lembu Abang yang teriak lapar duluan.”

“Pergilah kalian ke warung makan. Aku langsung ke Kepatihan, jika Adi Mada tidak ada, aku langsung ke Daha,” kata Narawita lagi.

“Kakang tidak makan dulu?” tanya Narameta.

Kebo Narawita menggeleng: “Tidak. Kalian saja. Hati-hati, ingat, untuk sementara ini kehadiran kita belum boleh diketahui siapapun.”

Selesai berkata demikian, Kebo Narawita langsung memisahkan diri. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju warung  makan yang ada di pasar itu, mengambil tempat di salah satu sudut ruangan yang cukup luas. Mereka memesan makanan dan minuman.

“Kakang Narameta, kau lihat, Majapahit memang sedang berkembang pesat,”  kata Lembu Abang dengan suara perlahan.

Kebo Narameta mengangguk: “Ya. Namun sayang, sepeninggal Sri Jayanagara kursi keprabon mendapat incaran banyak pihak.”

“Kenapa?”

Kebo Narameta membetulkan duduknya, katanya: “Sri Rajapatni, Ibu Suri, menyerahkan tahta kepada Sri Tribhuanatunggadewi sebagai wakilnya.”

“Bukankah Sri Ratu juga Ratu di Kahuripan, Kakang?” tanya Ken Wirati yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan kedua kakak seperguruannya itu.

“Itu salah satu sebab. Banyak pihak menganggap kekuatan Majapahit terbagi dua dengan Kahuripan. Bukan itu saja, para bangsawan istana tidak yakin Sri Ratu mampu membesarkan Majapahit.”

“Kenapa?” tanya Lembu Abang dengan dahi berkerut.

Kebo narameta menghela nafas, katanya lirih: “Sri Ratu tidak punya pengalaman politik seperti kakaknya.”

Lembu Abang menatap kakak seperguruannya itu dengan serius: “Menurutku, perpecahan di kalangan istana justru akan menjadi bencana besar. Apakah pemberontakan besar seperti peristiwa Nambi dan Kuti akan terjadi lagi?”

“Mungkin tidak. Namun seperti apa yang dikhawatirkan Bapak Guru, tampaknya Bupati Sadeng mulai berani menentang beberapa kebijakan Sri Ratu.”

“Misalnya?” tanya Ken Wirati lagi.

Kebo Narameta menghela nafas, katanya: “Bupati Sadeng tidak datang pada perayaan besar Bulan Caitra tahun lalu.”

Lembu Abang mengangguk-angguk: “Bahkan kudengar Keta juga mulai mengambil sikap. Betul begitu?”

“Ya.”

Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan datang membawa pesanan mereka. Mereka mulai menyantap hidangan.

Sementara mereka menyantap hidangan, masuk dua orang yang mengambil tempat duduk di sudut lain, bersebrangan dengan meja mereka. Melihat kehadiran mereka berdua, Kebo Narameta mengerinyitkan alisnya, memberi isyarat kepada kedua adik seperguruannya itu untuk berusaha menyembunyikan kehadiran mereka.

Dengan ekor matanya Ken Wirati memperhatikan kedua orang yang baru masuk itu, berbisik kepada Narameta: “Bukankah mereka dua tokoh sakti dari kelompok hitam?”

Narameta mengangguk sambil terus menyantap hidangan: “Ya. Welut Kuning dan Wastu Kala.”

“Gila. Orang-orang sakti turun gunung semua. Ada apa ini?” ujar Lembu Abang dengan suara setengah berbisik.

“Pangraita guru benar. Majapahit dalam keadaan tidak menentu.”

Kedua orang itu memesan makanan. Kebo Narameta terus memperhatikan mereka berdua secara diam-diam. Dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna, Kebo Narameta berusaha mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

“Wastu Kala, kau yakin Kala Warang minta kita berkumpul malam ini?” tanya seorang yang agak kurus, yang dikenal dengan nama Welut Kuning.

“Ya. Tapi kita masih menunggu yang lainnya,” orang yang dipanggil Wastu Kala itu, seorang sakti dari tanah Sunda, mengangguk.

“Dimana?”

“Desa Watu Kincer. Aku sudah berjanji dengan Macan Liwung. Malam ini.”

Kebo Narameta mendengarkan itu semua dengan seksama.

“Rencana gila ini membuatku semakin gelisah,” kata Welut Kuning lagi.

Wastu Kala tersenyum penuh arti, tanyanya menyelidiki: “Gelisah atau bermimpi secepatnya menjadi seorang tumenggung?”

Welut Kuning bersungut-sungut. Bersamaan dengan itu, pelayan datang membawa makanan.

Kebo Narameta yang terus memperhatikan mereka berbisik kepada Lembu Abang: “Kau dengar itu Adi Lembu?”

“Ya Kakang,” jawab Lembu Abang.

“Rupanya akan ada pertemuan besar. Mereka menyebut Kala Warang dan Macan Liwung, dua tokoh sakti yang sangat berpengaruh.”

“Apa sih rencana mereka?”  tanya Ken Wirati tidak mengerti.

“Aku akan mencari tahu,” jawab Narameta masih terus memperhatikan kedua orang di sudut ruang makan itu.

Sementara itu, di pelabuhan, serombongan burung terbang semakin menjauh  ke  tengah laut,  kemudian  kembali  menepi  di ujung yang  lain,  melatarbelakangi kapal-kapal dagang dan perahu-perahu kecil yang sedang sandar.

Pelabuhan  Majapahit  sebagai  pusat perdagangan  pada  saat  itu sangat ramai. Disamping  masyarakat  Majapahit,  etnis  Cina dan India dengan ciri pakaian mereka terlihat sibuk.

Ke arah utara, panorama pegunungan dengan lereng yang penuh ditumbuhi  pepohonan hijau  nampak sejuk. Di kaki gunung terhampar sawah  hijau dengan latar belakang nun jauh di sana  bentangan  laut yang membiru. Di sisi  lain  beberapa petani dan anak-anak sibuk menggebah burung yang hinggap di  ujung batang padi muda. Beberapa gubuk kecil di tengah  sawah dipenuhi beberapa petani laki-perempuan sedang bersendagurau.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s