GAJAH MADA bab I – 6

GAJAH MADA

Renny Masmadaoleh Renny Masmada

BAB I-6

Sikap Sadeng yang mulai menentang kebijakan Majapahit membuahkan keuntungan tersendiri bagi kelompok-kelompok seperti Kala Seribu. Kala Warang bersaudara sudah memperhitungkan itu, dia berharap dapat meminjam kekuatan Sadeng menghancurkan Majapahit.

Majapahit yang baru saja tumbuh merupakan ancaman besar bagi kelompok mereka. Didukung Kahuripan, Daha dan Singasari, Majapahit akan menjadi penghalang besar bagi kegiatan Kala Seribu. Dengan membenturkan Sadeng, Kala Warang berharap akan memecah kekuatan dan perhatian Majapahit yang belakangan ini sangat gencar memerangi kelompoknya.

Demikianlah, dengan kecerdasannya yang luar biasa, Kala Warang bersaudara berusaha keras mengumpulkan kelompok-kelompok lain untuk bergabung, bersama-sama menghancurkan Majapahit dengan cara-cara mereka yang kadang-kadang sangat kotor.

Matahari semakin naik. Panasnya mulai menyengat.  Para petani mulai beristirahat di bawah pohon di dekat sawah dan ladang mereka sambil menikmati makan siang yang diantarkan oleh anak-anak dan istri mereka.

Sesekali burung-burung yang bergerombol, terbang rendah mencericit meninggalkan nuansa tersendiri.

Sementara itu, di banjar desa Tegal Arum, Tunggul Raganata dan Kidang Alit sedang berbincang dengan Ki Buyut Tegal Arum, Bagas Tempati dan beberapa perangkat desa.

Bagi Tunggul Raganata, kehadiran Kala Warang bersaudara di Tegal Arum menimbulkan tandatanya besar.  Kala Warang tokoh hitam yang sangat ditakuti di Kotaraja. Kemudian tiba-tiba saja sekarang mereka begitu perhatian dengan Tegal Arum, desa terpencil, pasti punya maksud tertentu.

“Mereka menghindari bentrokan dengan kami. Aneh. Padahal dengan mudah mereka dapat melumpuhkan kami,” ujar Tunggul Raganata.

Tunggul Raganata tidak habis pikir. Bagi Kala Warang bersaudara, sepuluh Tunggul Raganata tidak akan banyak berarti. Tapi mengapa mereka cepat menghindar pada saat kedatangannya?

Bagas Tempati menghela nafas: “Mungkin mereka takut Raden.”

Tunggul Raganata menggeleng, katanya: “Tidak. Dengan mudah mereka dapat melumpuhkan kami. Mereka tahu itu. Kakang Daksina Papat saja perlu beberapa perwira untuk menghadapi mereka bertiga beberapa waktu lalu di Kotaraja.”

“Beberapa perwira Majapahit?” tanya Bagas Tempati tak mengerti.

“Ya. Kala Seribu sangat terkenal sebagai kelompok yang sangat sakti, ganas dan licin. Jaringan mereka tersebar di beberapa tempat,” kata Raganata lagi menjelaskan. Bagas Tempati menyeringai, bergidik: “Mengerikan. Untung kami tidak sempat dijadikan korbannya.”

“Sejauh ini Kala Warang bersaudara jarang muncul. Orang-orang hanya mengenal namanya. Kami sempat beberapa kali menahan pimpinan mereka, tapi bukan Kala Warang bersaudara,” Kidang Alit ikut menimpali.

“Bukankah kau pernah melacak padepokan mereka Kidang Alit?” tanya Raganata.

“Ya Kakang,” Kidang Alit mengangguk, “Tapi, di tengah perjalanan,  tawanan yang menjadi penunjuk jalan itu mati tertembus panah.”

Tunggul Raganata menghela nafas: “Begitu biadabnya mereka. Kalau perlu anak buahnya sendiri dikorbankan untuk kepentingan mereka.”

“Tapi kenapa di desa terpencil ini Kala Warang dan kedua adiknya itu mau menampakkan diri Raden?” tanya Bagas Tempati tidak mengerti.

“Itu yang menjadi pertanyaanku.”

“Ada  sesuatu  yang  perlu   diselidiki secara cermat Raden,” kata Bagas Tempati sambil menggeser duduknya.

Tunggul Raganata mengangguk-angguk: “Ya. Teka-teki  yang membingungkan. Oleh karena itu, sebelum berangkat ke Kotaraja besok pagi, kau persiapkan seluruh pengawal desa ini berjaga-jaga di setiap sudut desa Bagas.”

“Hamba Raden. Hamba laksanakan perintah Raden,” Bagas Tempati mengangguk.

Pembicaraan mereka terputus ketika dari dalam muncul Ni Gintes Hayu, adik sepupu Bagas Tempati,  bersama temannya,  membawa hidangan.

Secara tidak sengaja, pada saat menghidangkan minuman dan makanan, mata Ni Gintes Hayu bertemu pandang dengan mata Perwira Muda Kidang Alit. Pandangan yang sekilas antara keduanya itu membuat mereka terperangah. Ada sesuatu yang berdesir di dada mereka. Kidang Alit menunduk malu, sementara tanpa sadar pipi Ni Gintes Hayu berwarna merah dadu. Keadaan ini sempat tertangkap oleh mata Raganata dan Bagas Tempati. Tetapi tampaknya mereka berdua diam saja, berusaha untuk seakan-akan tidak mengetahuinya. Setelah kemenakannya itu kembali masuk ke dalam, Ki Buyut mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi hidangan itu.

“Silahkan mencicipi makanan desa kami yang terpencil ini Raden. Maaf jika tak berkenan,” Ki Buyut mempersilahkan.

“Ini sudah lebih dari cukup Ki Buyut. Terimakasih.”

Raganata mengambil makanan, mencicipinya diikuti yang lain. Ki Buyut tampak sangat malu menghidangkan makanan desa kepada tamu-tamu terhormatnya itu. Sesekali Ki Buyut sering mendapat makanan yang dibeli beberapa penduduk sepulang dari Kotaraja.

Dan itu sangat berbeda dengan makanan yang ada di desa mereka. Dengan ekor matanya, dilihatnya Tunggul Raganata dan Kidang Alit tampak menikmati hidangan yang tersedia. Ki Buyut menghela nafas. Dilihatnya Raganata dan Kidang Alit sangat sederhana, tidak tampak sombong seperti cerita yang berkembang bahwa para prajurit dan pejabat istana hidup seperti para dewa.

Bahkan Raganata dan Kidang Alit bersikap sangat sopan dan menghargai mereka. Tata bicaranya sangat baik. Ki Buyut sangat mengagumi kedua perwira Majapahit itu.

“Menurut penuturanmu, tampaknya mereka sangat mendendam sekali pada kalian Bagas,” tanya Raganata memecah kesunyian.

“Hamba terlalu sombong menantang mereka Raden.”

Tunggul Raganata tersenyum sambil menikmati hidangan, katanya: “Itu hak kalian mempertahankan desa kalian.”

Mendengar itu Bagas Tempati mengangguk-angguk sambil menundukkan kepalanya. Raganata menoleh ke halaman ketika mendengar sayup-sayup tertawa beberapa pengawal desa dan beberapa anak buahnya. Sesekali terdengar derit timba di belakang banjar diselingi suara debur air. Di luar banjar beberapa pedati  terseok-seok mengangkut hasil sawah dan kebun.

Desa Tegal Arum adalah desa di ujung tenggara Majapahit. Letaknya yang berada diantara laut di selatan desa, pesawahan dan pegunungan di utaranya menjadikan Tegal Arum sebagai desa yang mendapatkan sekaligus dua hasil alamnya, laut dan kebun. Itulah sebabnya hampir seluruh penduduk desa ini hidup sebagai petani dan nelayan.

Mereka hampir tidak pernah mengenal kehidupan di luar itu, selain memegang cangkul dan jala.

Secara naluriah, turun-temurun mereka hidup bersama alam. Tata kehidupan mereka semata-mata didasarkan pada hubungan kekeluargaan yang sudah tertanam sejak kakek-nenek  mereka membuka daerah itu.

Begitu bersahajanya mereka sehingga urusan mengenai tatanan kemasyarakatan dan keagamaan mutlak diserahkan pada kebijakan seorang Buyut  yang biasanya diangkat secara turun-temurun pula. Buyut bagi mereka adalah hukum yang harus didengar. Orang yang patut dihormati dan sekaligus tempat mereka menyelesaikan berbagai urusan kemasyarakatan.

Karena hasil alam yang melimpah dari hasil laut dan perkebunan, mereka hampir tak pernah pergi keluar daerah mereka terlalu jauh, kecuali beberapa penduduk yang membuka usahanya melalui perdagangan hasil bumi. Itupun tidak terlalu banyak.

Itulah sebabnya, bagi mereka kehidupan perkotaan seperti Kotaraja Majapahit atau Sadeng yang kebetulan dekat daerah mereka, hanya didengar dari cerita-cerita yang dibawa oleh pedagang-pedagang atau satu dua penduduk yang kebetulan pergi ke sana karena urusan keluarga yang sangat mendesak.

Tegal Arum yang terpencil di ujung utara, yang selama ini sangat tenang dan damai, tiba-tiba saja kini diguncang oleh kehadiran gerombolan pengacau yang akan merusak tatanan yang sudah mendarah daging mereka hayati selama puluhan tahun.

Tunggul Raganata menghela nafas, ditatapnya Ki Buyut yang tampak bersahaja itu: “Ki  Buyut,  usahakan  menghadapi  mereka  secara berkelompok. Kami akan kembali secepatnya dengan kekuatan    yang   memadai  setelah   melaporkan peristiwa ini kepada Kakang Daksina Papat.”

“Kami sangat malu, kami tidak berdaya  menghadapi mereka, sehingga merepotkan pusat kerajaan,” kata Ki Buyut dengan suara lirih.

Tunggul Raganata menggeleng: “Tidak Ki Buyut. Ini bukan  sekedar gangguan ketertiban dan  keamanan biasa.”

“Hamba juga mengira demikian Raden,” kata Bagas memberanikan diri.

“Mereka   bukan   ingin merampok  dan  mengganggu ketertiban,  mereka tampaknya  punya rencana  lain,” ujar Raganata lagi.

Ki Buyut membukukkan badannya, merasa sangat menyesal: “Dan kami tidak mampu menghadapi mereka Raden.”

Mendengar itu Raganata tersenyum, katanya: “Kami sangat berterimakasih kepada  kalian yang secepatnya   melaporkan  peristiwa   ini, sehingga  pusat  kerajaan dapat  cepat mengatasi keadaaan agar  tidak  berkembang lebih jauh.”

“Terimakasih Raden Tunggul Raganata,” Ki Buyut kembali dengan rasa hormat membukukkan tubuhnya.

Raganata sangat prihatin melihat keluguan para penduduk Tegal Arum itu.

Di halaman banjar belasan pemuda desa sudah berbaur dengan para prajurit. Dilihatnya dengan seksama para pemuda itu mendengarkan cerita anak buahnya. Mereka tampaknya sangat kagum dan bangga dapat langsung mendengar cerita mengenai kepahlawan para prajurit di medan perang.

Bagi para pemuda desa, menjadi seorang  prajurit merupakan suatu cita-cita dan harapan masa depan yang sangat didambakan. Kedatangan para prajurit ke desa mereka yang sangat terpencil itu merupakan suatu kebanggan tersendiri.

Pagi itu, kedatangan para prajurit Majapahit di desa Tegal Arum dengan cepat menjadi buah bibir penduduk. Bahkan sebagian penduduk bergegas menuju ke banjar desa sekedar ingin melihat mereka. Kehidupan yang mencekam beberapa minggu belakangan karena ancaman kelompok Kala Seribu, seperti mencair, dan membuahkan harapan baru bagi desa mereka.

Demikianlah yang terjadi beberapa pekan belakangan itu di desa Tegal Arum.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s