GAJAH MADA bab I – 5

GAJAH MADA

oleh Renny Masmada

BAB I-5

Kelompok mereka dikenal menguasai kelompok-kelompok kecil yang tersebar nyaris hampir di berbagai sudut daerah Majapahit.

Bahkan didengar khabar juga tersebar sampai ke Singasari lama dan daerah-daerah di pesisir utara. Kerja mereka selain merampok pedagang-pedagang di tepi-tepi hutan, juga memeras orang-orang kaya yang tinggal di kota-kota besar seperti Majapahit, Daha, Kahuripan dan Singasari lama.

Bukan itu saja, kelompok Kala Seribu juga didengar khabar mempunyai garis hubungan dengan beberapa petinggi dan pejabat kerajaan. Dengan memanfaatkan kekuasaan para oknum pejabat dan petinggi kerajaan, mereka dengan seenaknya merebut atau menguasai usaha orang-orang tertentu.

Begitu rapinya kerja mereka, sehingga sangat sulit untuk melacak keberadaan mereka. Daksina Papat beberapa kali melakukan penangkapan, tetapi beberapa kali juga mereka lolos dari tuduhan.

Itulah sebabnya Tunggul Raganata merasa perlu melaporkan kejadian ini kepada atasannya, Daksina Papat. Diedarkan pandangannya pada penduduk yang tampak masih ketakutan itu. Beberapa penduduk yang tadi nyaris pingsan mulai sadar setelah beberapa orang laki-laki memijit-mijit kaki mereka.

Para prajurit Majapahit juga mulai membantu mereka yang sangat lemah, sambil sesekali memberikan ketenangan. Kehadiran para prajurit kerajaan sedikit banyak memang ada pengaruhnya. Bahkan seorang ibu tua dengan terbata-bata menangis di dada seorang prajurit tanpa sadar.

Dengan kepercayaan diri yang kuat prajurit itu memeluk ibu tua itu, membantunya berdiri sambil menenangkannya.

Para pengawal desa dengan telaten menggandeng atau menggendong anak-anak yang masih saja menangis ketakutan. Raganata melangkah, berdiri berhadapan dengan puluhan penduduk yang tampaknya sudah mulai tenang itu.

“Pulanglah kalian ke rumah masing-masing,” Raganata berusaha memberikan ketenangan kepada para penduduk itu.

Seorang penduduk memberanikan diri maju ke dekat Tunggul Raganata sambil merapatkan kedua tangannya, katanya dengan suara bergetar: “Apakah mereka tidak kembali lagi Raden?”

“Jangan takut. Kami, para prajurit akan melindungi kalian.”

Mendengar itu, tanpa sadar para penduduk itu berjongkok sambil menghatur sembah kepada Raganata. Raganata membimbing berdiri penduduk yang berada di dekatnya.

“Sudahlah. Ayo bangkitlah. Pulanglah kalian. Bersikap dan bekerjalah seperti sebelumnya. Tidak akan terjadi apa-apa lagi.”

Penduduk yang masih gemetar itu menunduk hormat: “Hamba Raden. Terimakasih Raden.”

Satu persatu puluhan penduduk itu mulai meninggalkan tempat itu, kembali ke rumahnya masing-masing.

“Mari beristirahat di banjar desa Raden,” Bagas Tempati menghatur sembah.

Dipandanginya Bagas Tempati sejenak, katanya kemudian setelah menghela nafas: “Baiklah. Kami akan bermalam di sini. Besok pagi sekali kita kembali ke kotaraja. Kakang Daksina Papat perlu mengetahui ini semua. Kau ikut aku Bagas Tempati.”

Bagas Tempati menunduk dalam: “Hamba Raden. Mari kami persilahkan beristirahat di banjar desa.”

Bersama-sama dengan beberapa pengawal desa, Tunggul Raganata meninggalkan tempat itu menuju banjar desa menemui Ki Buyut Tegal Arum diantar oleh Bagas Tempati.

Sepanjang jalan pedesaan tidak hentinya Tunggul Raganata berdecak kagum melihat pesawahan yang begitu subur. Sebagai desa yang sangat jauh dari pusat pemerintahan, Tegal Arum termasuk desa yang sangat maju. Tak ada sebidang tanahpun yang tak terurus.

Saluran air tertata dengan baik. Jalan pedesaan sudah padat, memudahkan pengangkutan hasil bumi. Desa yang benar-benar subur dan memberikan banyak harapan masa depan.

Inikah salah satu sebab kelompok Kala Seribu ingin menguasai desa Tegal Arum? Tunggul Raganata tanpa sadar menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. Kalau itu yang dilakukan, hanya dalam waktu singkat kelompok mereka justru akan lumat dihancurkan pasukan Majapahit segelar sepapan.

Tapi apa yang membuat Kala Seribu begitu tertarik kepada Tegal Arum, desa terpencil? Sejumlah pertanyaan berputar-putar di kepala Raganata.

Begitu juga dengan Kala Warang dan kedua adiknya.

Selepas mereka menghindari bentrokan dengan prajurit Majapahit, mereka melingkari bukit di tepi hutan kecil di ujung desa Tegal Arum. Beberapa saat kemudian mereka tiba di satu tempat yang jarang dikunjungi manusia.

Kala Warang dan kedua adiknya sangat kecewa melihat kedatangan prajurit-prajurit Majapahit yang sangat tiba-tiba itu. Bagi mereka, prajurit-prajurit itu bukan tandingan mereka. Dengan mudah mereka dapat melumpuhkannya hanya dengan hitungan jari.

Tapi apabila mereka terpaksa melukai para prajurit itu, akan sangat berbahaya, akan meninggalkan persoalan baru bagi mereka. Mereka duduk di batu-batu yang berserakan di sekitar situ.

“Aku tidak mengerti, mengapa secara kebetulan prajurit berkuda Majapahit tiba-tiba saja muncul,” geram Kala Abang.

Kala Ungu menoleh, ujarnya: “Secara kebetulan katamu?” Kala Abang menghela nafas: “Ya. Secara kebetulan.” Kala Ungu memandang kakaknya lurus, katanya: “Tidak Kakang Abang. Aku tidak yakin.”

Kala Abang mengerinyitkan alisnya, bangkit mendekati adiknya, “Maksudmu?”

“Berapa jarak Kotaraja Majapahit dengan desa Tegal Arum?” tanya Kala Ungu serius.

Kala Abang mengangguk-angguk mencoba berfikir: “Paling cepat setengah hari perjalanan berkuda. Kenapa?”

“Apa mungkin para prajurit itu secara kebetulan mengadakan pengawasan sampai ke desa Tegal Arum? Desa terpencil yang tidak pernah tersentuh oleh hiruk-pikuk Kotaraja?.”

Mendengar itu Kala Abang mengangguk-angguk. Pemikiran adiknya masuk akal. Tidak mungkin belasan prajurit Majapahit begitu saja berada di Tegal Arum.

“Pasti ada yang melaporkan ke Kotaraja,” kata Kala Abang dengan geram.

Kala Warang memukul pohon di dekatnya. Pohon itu berderak patah. Katanya: “Setan! Ada yang lapor katamu?”

Kala Abang mengangguk: “Ya Kakang. Pasti!”

Kala Warang bangkit menendang patahan dahan yang dipukulnya tadi, katanya dengan geram: “Kalau itu yang mereka lakukan, berarti mereka terlalu berani menentang kita!”

Kala Abang mendengus, “Kenapa tidak kita hancurkan saja desa yang sudah menjadi gila itu Kakang Warang?”

Kala Ungu semakin bersemangat: “Dan bunuh semua penduduknya. Terutama kelinci tolol sombong itu. Siapa namanya tadi?”

Kala Abang mencoba mengingat: “Bagas Tempati, kepala pengawal desa.”

“Ya. Setan kecil itu,” dengus Kala Ungu.

Kala Warang menghela nafas, mencoba menenangkan diri katanya: “Jangan gegabah. Untuk sementara ini jangan sampai guru tahu apa yang kita lakukan. Ingat, kita masih menunggu hasil pertemuan kita dengan kawan-kawan yang lain.”

Kala Ungu mengangguk-angguk, ditatapnya kakak sulungnya itu, katanya kemudian: “Kakang yakin Sadeng akan membantu kita menghancurkan Majapahit?”

Kala Warang balik memandang adiknya dengan tajam: “Jangan bodoh! Bukan Sadeng, tapi orang-orang penting di dalamnya.”

Kala Ungu melemparkan pandangannya ke arah lain. Kakaknya benar, sejauh mungkin mereka hanya akan berhubungan dengan orang-orang tertentu di Sadeng.

“Mahesa Pangruntun?” tanya Kala Abang menegaskan.

Kala Warang mengangguk: “Ya. Di Sadeng, dia perwira yang sangat terpercaya. Tapi kita harus menjaga kerahasiaan ini. Jangan sampai orang-orang Sadeng tahu Mahesa Pangruntun bekerjasama dengan kita.”

Mahesa Pangruntun ialah seorang perwira di Sadeng. Kala Warang sudah menjalin hubungan dengannya lebih dari tiga tahun belakangan. Dengan kecerdasannya ingin menguasai Majapahit, Kala Warang berfikir bahwa Pangruntun dapat dimanfaatkan untuk menggalang kekuatan di Sadeng.

Dengan menjanjikan harapan masa depan, Kala Warang berharap Pangruntun mampu mewujudkan rencananya. Keretakan Sadeng dengan Majapahit segera dimanfaatkan oleh Kala Warang untuk membenturkan kekuatan mereka. Setidaknya Kala Warang dapat menghemat tenaga.

“Kapan pastinya pertemuan ini dilaksanakan?”

“Aku masih menunggu keputusan dari Mahesa Pangruntun. Mudah-mudahan dalam satu dua hari ini.”

Kala Abang mengangguk-angguk: “Satu-dua hari,” desisnya.

“Mari kita pulang ke padepokan. Masih ada tugas penting untuk kalian berdua,” Kala Warang melangkah meninggalkan tempat itu diikuti oleh kedua adiknya.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s