GAJAH MADA bab I – 4

GAJAH MADA

oleh Renny Masmada

BAB I-4

Suara derap kaki kuda itu terdengar semakin dekat, sayup-sayup terdengar suara aba-aba dari penunggang kuda itu, yang kemudian disahut oleh yang lain.

Mendengar itu wajah Bagas Tempati berubah, begitu juga sebagian penduduk desa. Kegembiraan tergambar di wajah mereka. Sebersit harapan muncul. Bagas Tempati berdesis: “Pasukan berkuda Majapahit.”

Semua  mata  menoleh ke arah deru tapak kuda  yang  semakin  lama semakin  mendekat. Di kejauhan mulai tampak serombongan prajurit Majapahit berpacu melawan angin. Ada kegembiraan di mata  mereka.  Masing-masing berdesis: “Pasukan berkuda Majapahit.”

Melihat itu Kala Warang mengerinyitkan alisnya. Hatinya berdesir melihat belasan prajurit yang berpacu sangat cepat itu. Beberapa pertanyaan mengganggu benaknya.

Kenapa secara kebetulan prajurit Majapahit tiba-tiba muncul di desa terpencil itu? Namun Kala Warang tidak punya waktu banyak untuk bertanya-tanya. Dia harus mengambil keputusan. Melihat jumlah, prajurit berkuda Majapahit itu bukan masalah berarti. Tapi ada perhitungan lain yang harus dipertimbangkannya secara masak, yaitu akibat dari seluruh rencana yang sudah ditatanya.

Untuk itulah kemudian Kala Warang dengan kemarahan tertahan setengah berteriak berkata pada kedua adiknya: “Abang,  Ungu.  Belum  waktunya  kita  berhadapan dengan kelinci-kelinci dari Majapahit itu.”

“Ya Kakang,” jawab Kala Abang dengan geram.

Kala Ungu dengan kemarahan tertahan berjalan kesana-kemari, sambil memandang wajah kakaknya. Menunggu perintah selanjutnya. Apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Masih dengan kemarahan yang tertahan, Kala Ungu memalingkan wajahnya pada para penduduk, katanya kemudian  dengan kasar: “He orang-orang bodoh! Ternyata nasibmu hari  ini masih  lebih  baik.”

“Tetapi  ingat  sekali  lagi terutama kau setan kecil, kau  yang  pertama kali  menjadi  santapan  kami nanti,” lanjut Kala Ungu sambil menunjuk Bagas Tempati.

“Kami   masih   memberi   kesempatan   bagi  yang mempertimbangkan permintaan kami. Ingat itu!” Kala Warang menimpali adiknya sambil bersiul panjang dan hampir bersamaan  kelompok  Kala Seribu berlompatan  ke  balik pepohonan diikuti tiga Kala bersaudara  seperti  terbang melewati  pepohonan  dengan  ringannya.

Kejadian itu bertepatan  dengan  tibanya orang-orang berkuda yang ternyata adalah Perwira Tunggul Raganata dan Perwira Muda Kidang Alit dengan belasan prajurit Majapahit. Tunggul Raganata sempat melihat kelompok Kala Seribu yang sedang melarikan diri itu.

Dengan gerak cepat Tunggul Raganata langsung melenting  dari atas kuda berusaha mengejar tiga bersaudara itu. Tapi Kala Ungu  sempat  meraih tiga lembar daun yang kemudian dilemparkan ke Tunggul Raganata dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna. Tiga lembar daun tersebut  berubah fungsi  menjadi  senjata rahasia yang  sangat  berbahaya  seperti lempengan besi baja.

Raganata    melenting  berputar  di  udara  menghindari  dedaunan tersebut,  salah satunya sempat menyerempet ujung  kainnya,  tiga lembar  daun  itu  kemudian  menghantam  pohon, menancap seperti mata  pisau.

Raganata  mengurungkan niatnya. Kawanan perusuh itu dengan cepat menghilang di balik pepohonan seperti   angin   meninggalkan  suara  tertawa  yang menyesakkan ulu hati itu.

Tunggul Raganata menatap para penduduk sambil membetulkan kain panjangnya yang sedikit terkoyak. Para prajurit yang lain sudah melompat turun dari kuda-kuda mereka, sebagian lainnya mencoba menentramkan kuda-kuda mereka yang terkejut berhenti mendadak.

“Siapa pimpinan di sini?” tanya Tunggul Raganata

Bagas Tempati dengan menundukkan tubuhnya maju ke depan memperkenalkan diri: “Hamba Raden. Bagas Tempati.”

Tunggul Raganata mengerinyitkan alisnya: “Bagas Tempati? Kepala Pengawal Desa Tegal Arum ini?”

Bagas Tempati merapatkan kedua belah tangannya, katanya dengan suara perlahan: “Hamba Raden.”

“Utusanmu datang terlambat ke  Kotaraja.”

Dari kelompok prajurit itu menyibak seorang penduduk: “Maaf Kakang  Bagas.    Aku  terpaksa  mencari   jalan melingkar  untuk  menghindari  gerombolan   Kala Seribu.  Ini  semua salahku.  Tetapi  aku  sudah melaporkan seluruh kejadian kepada Raden Tunggul Raganata ini.”

Bagas Tempati menepuk bahu utusannya itu: “Kau  sudah berbuat yang terbaik untuk  desa ini.”

“Apa yang dilakukan mereka?” Tunggul Raganata bertanya kepada Bagas Tempati.

“Ampun Raden. Belakangan ini anak buah mereka sering membuat keributan di sini. Bahkan beberapa penduduk ada yang terluka dianiaya mereka tanpa alasan yang jelas.”

Tunggul Raganata mengerinyitkan alisnya, sekilas diedarkan pandangannya. Dilihatnya para penduduk desa yang sangat lugu dan bersahaja itu. Raganata tidak habis fikir, apa maksud gerombolan itu.

“Sudah berapa lama ini berlangsung?”

“Ampun Raden, sudah hampir dua pekan ini. Tiga hari lalu mereka mengancam akan datang dan mengambil para pemuda kami.”

“Untuk apa?”

“Bergabung dengan mereka Raden.”

Raganata tanpa sadar membeliak ke Bagas Tempati, katanya dengan suara berat: “Ya. Tapi untuk apa?”

Bagas Tempati tak berani menatap wajah Raganata: “Kami tidak tahu Raden. Itulah sebabnya kami terpaksa mengirim utusan ke kotaraja. Maafkan kami Raden.”

Melihat Bagas ketakutan Raganata menghela nafas. Katanya dengan suara perlahan: “Langkahmu sudah tepat dan benar Bagas Tempati.”

“Ampun Raden.   Dengan   kesombongan  kami,  kami mencoba  melawan mereka. Tapi ternyata  terbukti kami bukan tandingan mereka. Ilmunya tidak dapat kami  mengerti. Untung Raden cepat datang,  kalau tidak, hamba tidak dapat membayangkannya,” kata Bagas Tempati terbata-bata.

“Siapa saja yang datang kemari dari kelompok Kala Seribu itu?”

“Mereka  bertiga  tuan.  Kala  Warang  dan  adik- adiknya beserta beberapa anak buahnya.”

“Gila!  Mereka turun semua? Jarang sekali  mereka menampakkan dirinya. Dengan sepuluh orang saja aku belum tentu  dapat menghadapi  mereka  bertiga.”

“Kami  sempat merasakan ilmu mereka. Memang  luar biasa.”

Tunggul Raganata berpikir keras. Katanya: “Ada sesuatu yang sangat serius terjadi di daerah  ini.  Aku  harus  melaporkannya   kepada Kakang Daksina Papat secepatnya.”

Sebagai seorang prajurit, pangraitanya begitu peka menangkap kejadian yang berkembang. Baginya sangat ganjil kelompok besar yang begitu ditakuti seperti Kala Seribu datang ke desa terpencil, desa Tegal Arum.

(bersambung)

One response to “GAJAH MADA bab I – 4

  1. keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s