GAJAH MADA bab I – 3

GAJAH MADA

oleh Renny Masmada

BAB I-3

Tiba-tiba, diiringi  siulan  panjang, dari   balik   pepohonan   muncul  belasan orang laki-laki. Disusul kemudian dengan tiga orang yang muncul  seperti angin  berpakaian  sama  mengenakan selempang  seutas  tali  yang ujungnya  dikaitkan dengan rantai besi dengan bandulan baja  berbentuk kelabang berwarna kekuningan.

Bersamaan dengan itu suara tertawa yang menyesakkan dada itu menghilang. Suara yang sangat dahsyat itu ternyata dilontarkan oleh ketiga bersaudara yang berilmu sakti itu. Ilmu mereka dikenal dengan nama Aji Kala Dahana. Aji yang sanggup merubah alam di sekitarnya bergetar hebat.

Di hadapan penduduk yang semakin ketakutan itu berdiri belasan sosok tubuh dengan perawakan yang sangat menakutkan. Berbadan tegap dengan berewok yang tidak terurus. Tiga diantara mereka, yang tampaknya pemimpin mereka berdiri sambil sesekali menyeringai dan terkekeh-kekeh. Penduduk sangat ketakutan, ada yang sudah terkulai, tak sadarkan diri.

“Kakang  Kala Warang,  rupanya   mereka    sudah bersiap-siap bergabung dengan kita,” ujar salah seorang dari ketiga orang pemimpin Kelompok Kala Seribu itu yang mengenakan kain warna merah.

Dialah yang dikenal dengan nama Kala Abang, adik Kala Warang.

Kala Warang tertawa terkekeh-kekeh, katanya: “Ha..ha..ha..,  Kala  Abang,  rupanya  kau  sudah tidak  sabar  ingin memiliki anak  buah  segelar sepapan. Tanya mereka,  sampai sejauh mana kesiapan mereka.”

Dengan wajah yang sangat menakutkan, Kala Abang memperhatikan satu persatu penduduk Tegal Arum yang sudah sangat ketakutan itu: “He.., kalian. Bagaimana dengan perjanjian kita?! Sudah  siapkah  kalian  bergabung  dengan  kami?”

Kala Warang tertawa nyaring menakutkan, katanya: “Masa  depan  kalian akan lebih  baik.  Apa  yang kalian  dapatkan dari hidup sebagai  petani  dan nelayan?”

Bagas Tempati bergidik melihat kekasaran tiga orang tokoh hitam yang sangat ditakuti pada zaman itu, berkata: “Kami  cukup  berbahagia. Yang Maha  Agung  telah memberikan    segalanya,   ketentraman    hidup, tatanan   bermasyarakat  yang  benar,   hubungan kemanusiaan  yang hakiki dan banyak  lagi.  Kami hidup tentram loh jinawi.”

“Omong kosong!” Kala Abang memotong hampir berteriak.

Melihat itu Kala Warang tertawa menyeramkan, katanya disela-sela tertawanya: “Ha..ha..ha..,  kenapa  kau  jadi  marah  Kala Abang? Apa menurutmu mereka berdusta.”

“Bohong! Mereka bohong Kakang. Justru kita datang ingin memperbaiki kehidupan mereka.”

Bagas Tempati mencoba melawan rasa takutnya, katanya: “Selama  ini kami sudah merasa  berbahagia,  berkumpul dengan keluarga, memberikan arti terhadap lingkungan masyarakat dan kerajaan.”

Mendengar sesorah Bagas Tempati itu, Kala Ungu, adik bungsu Kala Warang sangat gusar.

Dengan geram dia membentak Bagas Tempati: “He  orang sombong! Siapa namamu?  Berani  sekali kau sesumbar dihadapan Kakang Kala Abang?”

Bagas Tempati menarik nafas, katanya dengan suara bergetar: “Namaku  Bagas  Tempati.   Aku   Kepala  Pengawal Desa   Tegal  Arum ini yang diberi  kepercayaan oleh  Ki  Buyut  untuk  menjaga  ketertiban  dan keamanan lingkungan.”

“Apakah kau tidak mengenal kami?”

“Secara  pribadi  tidak. Tetapi  mendengar  kabar burung,  tuan-tuan adalah  tiga bersaudara  kelompok Kala Seribu.”

“Jadi kau sadar dengan siapa kau berhadapan?”

“Dengan ciri-ciri yang pernah kami dengar,   tuan ialah  Kala Ungu, saudara paling muda dari  Kala Seribu.”

“Setan! Kelinci  tolol! Caramu bicara menganggap kau pantas berhadapan denganku,” Kala Ungu tidak senang mendengar namanya disebut begitu saja oleh seorang penduduk desa yang tidak berharga di matanya itu.

“Mungkin  tuan-tuan  berilmu sangat  sakti.  Bagi tuan  kami bukan apa-apa. Tetapi kami punya  hak dan  kewajiban  mempertahankan milik  dan  harga diri kami,” jawab Bagas Tempati dengan tangkas, dan sangat berani.

Mendengar itu, Kala Ungu tidak dapat menahan kemarahannya.  Secepat  kilat Kala Ungu berkelebat memukul Bagas Tempati yang gelagapan menghindar, namun  serangan  itu baginya  seperti  kilat  sehingga tak  urung  badannya  terlempar beberapa langkah, bergulingan beberapa kali.

Kepalanya  seperti  berputar-putar, dari bibirnya  meleleh  darah segar.  Dengan  tertatih-tatih ia berdiri  bertelekan kerisnya dibantu beberapa penduduk yang sangat ketakutan melihat perkembangan keadaan.

Wajah Kala Ungu merah padam, katanya hampir setengah berteriak: “Orang-orang  gila! Jangan mimpi kalian  dapat mengalahkan kami.  Kami  satu  orang, bandingannya seratus seperti kalian. Mengerti?”

Kala Warang dan Kala Abang tertawa terkekeh-kekeh melihat sikap adik mereka itu. Beberapa anak buah mereka tertawa terpingkal-pingkal. Kala Abang maju selangkah, katanya: “Sebelum  kesabaran kami habis, sekali lagi  kami tanyakan, siapa yang akan ikut dengan kami? Atau  kumusnahkan  seluruh isi  desa  Tegal Arum ini?“

Penduduk   bertambah gelisah.  Masing-masing  saling  berpandangan. Terjadi  kegaduhan  kecil. Seorang anak begitu saja menangis melihat orang tuanya ketakutan.

Melihat perkembangan keadaan, Bagas Tempati semakin tegang. Sebagai seorang Kepala Pengawal, darah kepemimpinannya begolak. Dia sadar nyawa mereka pada pagi itu terasa berada di bawah bayang-bayang Kala Warang bersaudara itu.

Melawan berarti kematian. Tidak melawan sama artinya menyerahkan diri pada mereka, bukan saja harta dan diri mereka, tetapi harga diri dan tatanan kehidupan mereka. Kehidupan yang selama ini dibangun dan berjalan sesuai dengan hakikat kehidupan bermasyarakat yang benar. Tenang, damai dan penuh harapan masa depan.

Dalam kebingungannya itu, dengan  tertatih-tatih  Bagas  Tempati berdiri. Sambil menahan sakit disekanya darah di ujung bibirnya, katanya: “Tidak  Kala Abang. Kami tidak  mungkin  mengikuti rencana  gila kalian. Biar kami berkalang  tanah kami rela mati demi harga diri kami.”

Mendengar itu, Kala Ungu sangat geram: “Setan!”

Tangan  Kala Ungu sudah terangkat akan menghantam Bagas  Tempati yang  sudah  mencabut kerisnya untuk menjaga hal-hal  yang  tidak diinginkan.

Tetapi dalam keadaan yang sangat kritis itu di kejauhan terdengar deru  tapak kuda yang berlari kencang seperti tatit  menghampiri. Kala Warang bersaudara terpaku memperhatikan, sementara Kala Ungu mengurungkan niatnya memukul Bagas Tempati.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s