GAJAH MADA bab I – 2

GAJAH MADA

oleh Renny Masmada

BAB I-2

“Tetapi mereka terlalu kuat Kakang. Sebentar  lagi mereka datang  mengambil  pemuda-pemuda kita.”

Mendengar itu penduduk yang lain berkata: “Apabila  kita menolak maksud mereka,   desa yang   kita  cintai ini, desa  Tegal  Arum, akan  musnah Kakang, wanita dan anak-anak  gadis kita  akan  dibawa untuk  memenuhi  nafsu  kotor mereka.”

Mendengar itu kembali puluhan penduduk itu menggeremang ketakutan. Bahkan seorang wanita tua begitu saja terduduk tak sadarkan diri karena ketakutan yang sudah tidak dapat ditahannya lagi. Suaminya dengan tertatih-tatih dibantu beberapa penduduk membantu menyadarkan wanita tua itu.

Bagas Tempati dengan sekuat tenaga membangkitkan kepercayaan diri mereka, katanya lagi: “Kita harus menjadi diri kita sendiri.”

Penduduk terdiam sesaat. Bagas Tempati memperhatikan wajah mereka satu persatu.

Sementara itu di salah satu rumah penduduk, seorang ibu sangat ketakutan, sedang memeluk erat anaknya yang terus saja menangis. Suaminya gelisah mondar-mandir di ruang dalam itu sambil memegang arit. Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara gaduh puluhan penduduk.

Suaminya berkata dengan suara lirih: “Ayo Nyai, sebaiknya kita keluar. Bergabung dengan penduduk yang lain.”

Perempuan itu menggeleng lemah: “Tidak Kakang. Aku tidak mau anakku jadi korban keganasan mereka.”

Suaminya kembali menghela nafas panjang. Dipandangi istri dan anaknya yang sangat ketakutan itu. Sesekali diusapnya bilah arit di tangannya yang semakin lama terasa semakin dingin.

“Tapi kita tidak bisa bertahan hanya di dalam rumah. Ayo, kita keluar bersama-sama dengan penduduk yang lain,” kata lelaki itu lagi dengan suara lirih.

Kembali istrinya menggeleng: “Tidak Kakang.”

Di kejauhan, suara sayup-sayup penduduk yang ketakutan menggelitik telinga perempuan itu. Lelaki itu duduk di samping istrinya, mencoba menenangkan istri dan anaknya yang tangisnya semakin keras itu.

“Di dalam rumah akan lebih sulit Nyai. Mereka bisa kapan saja masuk ke rumah ini, membakar kita, membunuh kita.”

Perempuan malang itu malah semakin histeris, merangkul suaminya: “Tidak…,  jangan Kakang….. Jangan sampai mereka memasuki rumah kita.”

“Makanya, mari kita bergabung dengan yang lain.”

“Tidak Kakang…., mereka sangat ganas. Mereka dapat membunuh kita…..”

Lelaki itu kembali menghela nafas: “Kematian akan semakin dekat apabila kita bersembunyi di dalam rumah Nyai.”

“Ooo…..jangan Kakang…, tidak Kakang,” istrinya menangis menyayat hati, “Mereka tidak boleh membunuh kita, membunuh anak kita ini.”

“Di luar, kita akan berkumpul bersama-sama yang lain. Paling tidak kita mati bersama-sama. Ayo….”

“Oh……,” istrinya mengeluh tertahan.

Dengan ketakutan dan gemetar istrinya bangkit dipapah suaminya. Mereka akhirnya keluar rumah.

Sementara itu, Bagas Tempati dengan semangat yang sangat tinggi masih berusaha sekuat tenaga membangkitkan kepercayaan diri para penduduk.

“Sejauhmana tanggungjawab  dan   kesetiaan   kita   terhadap desa kita? Terhadap tatanan masyarakat yang susah  payah  kita  bangun  bersama?    Terhadap falsafah   kemasyarakatan   yang   ditata   oleh pemerintahan Majapahit?” lanjut Bagas Tempati dengan suara bergetar.

Mendengar itu, Kunang Gawa makin bersemangat katanya menimpali: “Benar! Alasan apapun yang dijanjikan oleh mereka tetap tidak akan sesuai dengan norma-norma  yang kita  junjung    selama    ini,  latar  belakang kelompok  mereka  tidak  sesuai  dengan  hakekat tatanan masyarakat kita.”

“Ingat, belasan tahun desa kita ini memberikan penghidupan yang layak bagi kita, harapan masa depan. Apa artinya itu semua jika sekarang kita dengan pasrah melepaskan tanggungjawab terhadap tanah ini?” ujar Bagas Tempati lagi

Para penduduk saling berpandangan.

Sementara itu, suami dan istri yang sedang memeluk anaknya baru saja tiba dengan wajah ketakutan luar biasa, ikut bergabung dengan puluhan penduduk yang sudah ada di situ.

Seorang penduduk yang sejak tadi terduduk bersandarkan sebatang pohon memberanikan diri berkata dengan suara bergetar: “Apa artinya masa depan dengan sepotong nyawa yang sebentar lagi akan lepas ini Kakang?”

“Sepotong nyawa ini tidak akan berarti banyak jika desa yang kita cintai ini musnah, ingat itu,” jawab Bagas Tempati dengan suara bergetar.

“Kami mengerti Kakang. Tapi, apa yang harus kita lakukan?” ujar penduduk itu lagi.

“Kita dihadapkan pada persoalan yang tidak dapat kita lakukan,” timpal penduduk lainnya lagi.

“Tidak!” sahut Kunang Gawa setengah berteriak: “Sejengkal tanah ini sangat berarti bagi kita. Kita harus mempertahankannya. Kalau perlu dengan mengorbankan nyawa kita.”

Baru saja Kunang Gawa selesai bicara, tiba-tiba  dari kejauhan terdengar suara tertawa yang  bergulung-gulung  memenuhi  kawasan itu. Begitu kuatnya tenaga  dalam  yang disalurkan   melalui   suara  tawa  tersebut,  sehingga  beberapa penduduk  terkulai lemas, terduduk, tanpa  dapat  berbuat apa-apa.

Sebagian  lain  duduk bersila mencoba  mempertahankan  diri  dari kekuatan  yang sangat luar biasa itu. Hanya beberapa  orang  yang masih  tetap  bertahan,  berdiri sambil  menggenggam  erat  keris mereka.

“Ilmu iblis!” teriak salah seorang penduduk lirih.

Bagas Tempati berdesis: “Hati-hati,  persiapkan diri kalian. Ingat  bahwa kita tetap berpijak pada tatanan dan norma-norma sosial yang benar. Kita tidak rela tatanan bermasyarakat yang  kita bina  bertahun-tahun ini dirusak oleh ketamakan tokoh hitam seperti mereka.”

“Mudah-mudahan  Yang  Maha  Agung  bersama  kita,” sela penduduk yang lain.

Dengan terbata-bata penduduk yang sudah terkulai lemas itu bertanya: “Kakang  Bagas,  ilmu apa yang  mereka  lontarkan itu? Dadaku serasa ditusuk ber-ribu jarum.”

“Ilmu  yang hanya dimiliki perguruan Kala  Seribu yang dinamakan Aji Kala Dahana,” jawab Bagas Tempati sambil menahan sakit.

“Hebat. Ajinya dilontarkan dari jarak yang  masih jauh sekali.  Apa  jadinya  apabila  dilontarkan berhadap-hadapan  langsung dengan kita, dadamu tidak sekedar ditusuk jarum, bahkan akan  hangus terbakar,” kata seorang penduduk setengah baya kepada penduduk yang terkulai lemas itu.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s