catur prasetya

CATUR PRASETYA


 

 

 

oleh Renny Masmada

Setelah ditetapkannya Undang-Undang nomor 2 tahun 2002, Polri mengalami perubahan paradigma menuju terwujudnya polisi sipil yang mandiri.

Perubahan paradigma ini mengisyaratkan perlunya melakukan perubahan pada aspek struktural, instrumental dan kultural.

Untuk menciptakan kultur polisi yang santun dan sama sekali terlepas dari perilaku militeristik sesuai dengan tuntutan yang begitu kuat dari reformasi total, tuntutan global dan perkembangan lingkungan strategik di berbagai sektor diperlukan pemaknaan yang sangat kuat terhadap Tribrata dan Catur Prasetya yang baru-baru ini sudah divalidasi.

Sebagai soko guru Polri, Tribrata dan Catur Prasetya memuat kandungan filosofi-moral-etis yang sangat inheren membentuk karakteristik Polri dalam melakukan tanggungjawab profesi di Negara tercinta ini.

Pemaknaan baru Tribrata, sebagai 3 azas yang harus ditaati merupakan hasil re-orientasi yang sekaligus mengandung dimensi filosofis, metafisis, politis dan empiris. Sehingga Tribrata adalah paradigma baru kepolisian, paradigma filosofis yang mengandung prinsip-prinsip jati diri.

Sedang pemaknaan baru Catur Prasetya, juga sebagai paradigma baru kepolisian yang horizontal berdiri bersejajar dengan Tribrata, adalah paradigma moral yang mengandung prinsip-prinsip etis, yang pada akhirnya menciptakan hubungan hierarkis-sistematis antara Tribrata, Catur Prasetya dan Kode Etik Profesi.

Sebagai replika Gajah Mada, Catur Prasetya, yang adalah jiwa 4 sifat dari 15 sifat Gajah Mada, yang tertuang di dalam naskah agung Kakawin Nagarakretagama pupuh XII, LXX dan LXXI diharapkan mampu membangun hubungan hierarkis-sistematis ini, yang sangat inheren mampu menjawab berbagai tuntutan yang sangat fundamental bagi Polri.

Bersama-sama dengan Tribrata, Catur Prasetya merupakan bangunan yang sangat konstruktif sebagai pilar dasar menciptakan kultur kepolisian Republik Indonesia sesuai dengan 15 sifat Gajah Mada yang teridentifikasi pada dua kekuatan paradigma Polri tersebut.

Apabila perumusan butir-butir tersebut diletakkan dalam konteks etika politik, filsafat politik dan budaya politik bangsa, akan memberikan pencerahan baru bagi eksistensi kepolisian.

Butir-butir Tribrata memberikan tiga ruang lingkup kinerja Polri yaitu Bangsa, Negara dan Masyarakat. Ini adalah jati diri Polri, paradigma filosofis.

Karena Catur Prasetya adalah paradigma moral, merupakan etika Polri yang dapat menciptakan rasa aman, menjaga keselamatan, kepastian hukum dan kedamaian.

Dua paradigma ini terimplementasikan pada Kode Etik Profesi Polri.

Dan, konsepsi ini sebenarnya sudah ada lebih dari enam ratus tahun lalu yang digagas oleh Gajah Mada, bapak bangsa, bapak Bhayangkara.

Salam Nusantara..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s