JAYANAGARA DAN PERISTIWA BADANDER

JAYANAGARA, raja kedua Majapahit

oleh Renny Masmada

Sepeninggal Sri Kertarajasa pada tahun 1309, Sri Jayanagara naik tahta Majapahit. Sri Jayanagara adalah putra Sri Kertarajasa dari istri Dara Petak yang juga bernama Indreswari.

Pada masa pemerintahan Sri Jayanagara terjadi pemberontakan Nambi yang berhasil ditumpas pada tahun saka dengan candrasangkala mukti-guna-paksa-rupa (=1238) atau tahun 1316 M. Namun 2 tahun kemudian menyusul pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Lasem dan Ra Semi, yang juga berhasil ditumpas pada tahun saka nora-weda-paksa-wong, 1240 (= 1318 Masehi).

Lagi-lagi, setahun kemudian Majapahit kembali diguncang pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti pada tahun 1319.

Ra Kuti berhasil menduduki tahta Majapahit dan mengakibatkan Sri Jayanagara mengungsi ke Badander.

Pada waktu malam Sri Jayanagara terpaksa meninggalkan istana hanya diiringkan oleh lima belas pengawal dari Bhayangkara (Kesatuan Bhayangkara sudah ada sejak zaman Singasari, Raden Wijaya tetap mendirikan kesatuan ini dengan nama sama. Tugas pokoknya adalah sebagai pengawal raja dan kerabatnya).

Kebetulan kepala pengawal pada malam itu Gajah Mada. Mereka membawa Sri Jayanagara ke Badander yang dengan sangat hormat diterima oleh kepala desa Badander yang masih sangat setia itu.

Peristiwa ini tercatat di Pararaton sebagai berikut:

‘Sang Prabhu bermaksud pergi ke Badander. Perginya pada waktu malam, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Hanya diiringkan oleh pasukan Bhayangkara sebanyak 15 orang. Mereka itu kebetulan sedang mendapat giliran jaga.

Pada waktu itu Gajah Mada menjadi kepala pasukan Bhayangkara. Kebetulan sedang mendapat giliran jaga. Itulah sebabnya Gajah Mada mengiringkan Sang Prabhu ketika pergi. Lamalah Sang Prabhu tinggal di Badander.

Ada seorang pengalasan minta izin untuk pulang. Tidak diizinkan oleh Gajah Mada, karena jumlah pengiring raja hanya sedikit. Karena memaksa untuk pulang, lalu ditusuk dengan keris oleh Gajah Mada. Maksudnya jangan ada orang yang memberitahu bahwa Sang Prabhu tinggal di rumah kediaman kepala desa Badander. Gajah Mada khawatir jika hal itu diketahui oleh Ra Kuti. Lima hari kemudian Gajah Mada mohon izin untuk pergi ke Majapahit.

Setibanya di Majapahit, para amancanegara bertanya dimana tempat pengungsian Sang Prabhu. Jawabnya bahwa Sang Prabhu sudah mangkat dibunuh oleh pasukan Ra Kuti.

Yang diberitahu semuanya menangis. Berkatalah Gajah Mada, “Diamlah! Tidakkah tuan-tuan semuanya menghendaki Ra Kuti sebagai raja?” Jawab yang ditanya, “Apa katamu itu? Ia bukan raja kami!”

Akhirnya Gajah Mada memberitahu bahwa Sang Prabhu tinggal di desa Badander. Gajah Mada mohon bantuan kepada para mantri; semuanya sanggup membunuh Ra Kuti. Ra Kuti mati dibunuh. Pulanglah Sang Prabhu dari Badander. Tinggallah kepala desa Badander, nama Badander itu terkenal sampai lama.’

Setelah peristiwa Badander, nama Gajah Mada mulai dikenal di Majapahit.

Menurut Pararaton, dua bulan setelah peristiwa Badander Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kahuripan. Tapi pernyataan ini masih diragukan.

Karena Nagarakretagama pupuh LXXI hanya mengatakan Gajah Mada mulai menjabat patih di Daha pada tahun saka 1253 (= 1331 Masehi) dan sebelumnya berada di Majapahit. Pernyataan ini didukung oleh prasasti Blitar yang juga menyatakan Gajah Mada menjadi patih di Daha pada tahun 1330/1.

Setelah peristiwa Badander, Sri Jayanagara mulai menaruh perhatian pada Gajah Mada.

Dia mulai sering berada di istana bersama-sama mendampingi Sang Prabhu, dengan jabatan pengageng di kesatuan Bhayangkara sebagai pengawal khusus Raja, mungkin sekarang sama dengan ajudan. Oleh karena itu, segala yang menyangkut kegiatan protokol raja, Gajah Mada lah yang mengatur.

Itulah sebabnya pada tahun saka bhasmi-bhuta-nampani-ratu, 1250 (= 1328 Masehi), ketika raja mengalami sakit serius, bisul atau pembengkakan, Gajah Mada meminta seorang dharmaputera, mPu Tanca (tabib kerajaan) mengoperasi raja. Operasi tidak berjalan mulus karena mPu Tanca berulangkali tidak dapat mengiris bisul itu.

Dengan rasa hormat mPu Tanca meminta raja melepaskan kesaktiannya agar dapat melakukan operasi terhadap penyakitnya itu. Sri Jayanagara kemudian melepaskan kesaktiannya, barulah operasi berjalan mulus.

Tetapi celakanya, bukan saja bisul itu yang teriris, pisau bedah Mpu Tanca bahkan mengakibatkan kematian Jayanagara. Pisau itu telah menikam tubuh raja yang seketika tewas. (Beberapa versi mengatakan sikap Ra Tanca itu didorong oleh rasa dendam terhadap raja yang telah melecehkan istrinya.)

Melihat itu, Gajah Mada yang berada di kamar raja tanpa sepengetahuan Mpu Tanca sangat marah, dengan seketika Gajah Mada akhirnya juga membunuh Mpu Tanca, yang langsung sekarat dan tewas. Kerajaan gempar.

Kata Pararaton sebagai berikut:

‘……..Kebetulan raja Jayanegara menderita bengkak dan tidak bisa pecah. Tanca disuruh mengiris (membedah), dan masuk ke peraduan. Ditusuk sekali-dua kali tidak mempan, raja dimohon melepaskan kesaktiannya (aji-ajinya). Raja melepaskannya di sampingnya, (bisul/kebengkakan) diiris/dibedah oleh Tanca dan mempan, sekaligus ditusuk oleh Tanca, wafatlah raja di peraduan. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca‘ (Pararaton 27)

Sri Jayanagara mangkat tahun saka 1250 (=1328 Masehi). Dalam Nagarakretagama ditunjuk dengan candrasangkala windu-sara-surya. Dicandikan di Kapopongan. Candinya bernama Sanggapura.

Salam Nusantara..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s